Jumat, 17 September 2010

Manfaat uang virtual bagi masyarakat fakir miskin

Kebijakan mata uang virtual yang awalnya dianggap aneh dan akan berujung sia-sia oleh sebagian pengamat ekonomi dan para pengkritik di negeri Assalam, perlahan tapi pasti semakin menampakkan manfaat besarnya buat kegiatan ekonomi dan sosial warga negeri Assalam.

Salah satu manfaat yang paling signifikan adalah penarikan zakat dan pendistribusiannya.
Dengan mata uang virtual penarikan zakat yang dilakukan secara manual dan atas inisiatif para wajib zakat, kini dilakukan secara otomatis oleh sistem. Setiap wajib zakat yang sudah menyetujui agar hartanya dikenai zakat akan diambil zakatnya sesuai dengan jenis zakatnya , kadar dan hitungan nisabnya.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang manfaat uang virtual dalam pengelolaan zakat, saya melakukan tele-meeting dengan MenSoBu (Menteri Sosial Budaya) dengan fasilitas Hackom.

Ada apakah gerangan Bapak Presiden meminta saya untuk tele-meeting . Tanya Mensobu membuka pembicaraan

Saya hanya ingin silaturahmi sekalian turba ke masyarakat yang telah saudara bagikan zakat kepada mereka. Jawab saya

Oh iya, dilokasi mana pak Presiden ? tanya Mensobu

Dipemukiman padat pinggir kali Wulungsi , kebetulan tadi saya sudah mewanwancarai mereka tentang penyaluran zakat yang mereka terima. Jawab saya

Sekalian saya ingin dengar dari anda bagaimana penyaluran yang sudah anda lakukan sampai saat ini?. Tanya saya

Bapak Presiden Alhamdulillah ,semua zakat sudah kami salurkan kepada para fakir miskin maupun mereka yang berhak, berupa uang virtual yang mereka terima melalui transfer rekening.
Uang zakat tersebut dapat mereka gunakan langsung untuk berbelanja sesuai kebutuhannya melalui transaksi virtual via HC2 yang mereka miliki.
Dari data pengunaan uang zakat kami juga monitor kebanyakan mereka mengunakan untuk pembelian bahan makanan pokok. Kami juga menyiapkan sistemnya agar uang zakat ini tidak mereka salah gunakan untuk pembelian barang-barang mewah seperti barang elektronik ataupun sejenisnya.
Insya Allah kedepan kami juga akan membuat proyek rumah tinggal bersusun dengan harga sewa yang murah agar bisa membantu menyediakan tempat tingal yang sehat dan layak huni, selain itu program-program pelatihan dan pendampingan wirausaha maupun pelatihan ketrampilan juga kami telah lakukan agar dalam waktu 1 tahun kedepan mereka bisa hidup mandiri tidak lagi hidup tergantung dari pemberian uang zakat.
Program evaluasinya juga sudah kami siapkan, targetnya 10% dari para penerima zakat dapat di entaskan dari kemiskinan setiap tahunnya. Kata Mensibu menjelaskan panjang lebar

Saya ingin tahu lebih jauh, apakah uang zakat bisa mereka gunakan dimanapun? tanya saya

Iya, pak Presiden mereka bisa membelanjakannya dimanapun yang mereka mau, sehingga antrian penerimaan barang yang dulu sangat melelahkan dan sering memakan korban tidak akan pernah lagi terjadi, begitupun antrian penerimaan uang zakat juga sudah tidak ada lagi, hal ini menambah efisiensi penyaluran dana zakat. Selain itu dengan adanya uang virtual ini kami mudah menyalurkan , memantau dan mengevaluasi pemanfataanya sehingga, benar-benar bisa fokus untuk mengentaskan kemiskinan. Terang Mensobu

Alhamdulillah kalau begitu, rasanya tele-meeting ini sudah cukup saudara Menteri , silahkan anda bertugas kembali, saya ingin berdialog dengan masyrakat di pinggir kali Wulungsi ini. Kata saya

Terima kasih pak Presiden, wassalamu'alaikum . Tutup pak Mensobu

W'alaikumussallam . Jawab saya

Kemudian sayapun melakukan dialog langsung kepada masyarakat yang hadir dan menyaksikan tele-meeting saya tadi.

Siapa diantara saudara-saudara yang mau memberitahu pengalamannya menerima dana zakat yang disalurkan pemerintah?. Tanya saya kepada hadirin

Saya , saya pak ..
Saya pak ...
pak presiden saya pak...

riuh-redah para hadirin saling mengajukan diri sambil mengangkat telunjuknya.

Diantara hadirin, ada seorang bapak yang sudah tua , saya minta ia untuk bercerita membagi pengalamannya.

Siapakah nama bapak dan berapa usia bapak saat ini ?. tanya saya

Nama saya Rekoso pak Presiden, usia saya 66 tahun . Jawabnya

Apa pekerjaan bapak? tanya saya

Memulung sampah pak Presiden. jawabnya

Berapa pendapatan bapak seharinya? tanya saya

Alhamdulillah cukup untuk makan sekali, bersama seorang istri saya. katanya

Oh begitu, memangnya bapak tidak memiliki anak? tanya saya

Ada pak Presiden, anak saya satu, baru 3 bulan ini setelah mendapat pelatihan ketrampilan dari departemen Sosial dan Budaya ,anak saya itu disalurkan bekerja disebuah Hotel di luar kota. kata nya

Oh ... begitu, apakah anak bapak memberikan bantuan untuk biaya hidup ? tanya saya

Alhamdulillah sejak bulan lalu, anak saya sudah mengirimkan uang via HC2 untuk membantu biaya hidup kami sehari-hari, hasilnya saya sedang mengumpulkan modal untuk membuat budidaya lele dilahan sempit secara kecil-kecilan. jawabnya bersemangat

Apakah ada tim pendamping dari departemen sosial dan budaya untuk membantu bapak dalam hal ini? tanya saya lebih jauh

Alhamdulillah sudah ada bapak Presiden, setiap 1 minggu sekali ada pelatihan dan penyuluhan tentang hal ini, bahkan dibantu juga dalam hal permodalannya. jawabnya

Bagaimana kesan-kesan bapak dengan pelayanan yang telah diberikan oleh departemen sosial dan budaya terhadap masyarakat yang kurang mampu ini? tanya saya

Alhamdulillah saya bersyukur pemerintah sekarang sudah semakin maju dalam membantu masyarakat miskin seperti kami, kami pun merasa dihargai sebagaimana layaknya manusia dan warga negara yang lainnya. Sehingga kami pun bercita-cita untuk segera bisa berdikari dan tidak lagi bergantung dari zakat yang biasa kami terima. Saya berharap program ini tetap dilanjutkan karena saya juga ingin bisa memjadi wajib zakat yang bisa membantu para fakir miskin. Saya do'akan pak Presiden sehat selamat dan diberikan keberkahan dari Allah swt. katanya terharu

Terima kasih pak Rekoso, insya Allah jika kita bersatu dan bersama-sama dengan niat tulus ikhlas membangun bangsa ini maka Allah pasti memberikan jalan keluarnya. Kata saya

Acara berlanjut dengan tanya jawab secara bergilir dari para hadirin yang hadir.
Ada yang bercerita dan mengucapkan terima kasih atas bea-siswa pendidikan anaknya, ada yang bercerita tentang pelayanan kesehatan gratis, ada yang bercerita tentang cita-citanya memiliki rumah dengan harga yang terjangkau dan masih banyak lagi.

Semua cerita-cerita mereka saya dengarkan satu persatu hingga sore hari, seperti sebuah symphoni yang indah dari sebuah sisi kehidupan di negeri Assalam, semoga symphoni ini tetap terjaga dan mengalun merdu sehingga cita -cita negeri Assalam yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem raharjo bisa semakin nyata. Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar